Daging adalah bisnis besar. Menurut analisis A.T. Kearney, pasar daging global itu bernilai $1000 miliar pada tahun 2018, dan ini akan terus berkembang. Laporan dari World Economic Forum’s Alternative Proteins mengatakan permintaan daging akan berlipat ganda sebelum tahun 2050 seiring dengan bertumbuhnya populasi global kita, rata-rata menjadi lebih kaya, dan mengadopsi pilihan makanan yang saat ini terbatas pada negara-negara berpenghasilan tinggi.
Pada saat yang sama, kekhawatiran tentang bagaimana memberi makan populasi yang berkembang ini, bersama dengan dampak daging terhadap faktor-faktor termasuk kesehatan kita, lingkungan dan kesejahteraan hewan terus meningkat. Vegetarian, veganisme, dan flexitarianisme secara teratur menjadi berita, dengan semakin banyak orang menjadi pendukung pola makan nabati. Sebuah studi yang dilakukan oleh perusahaan riset Inggris YouGov menemukan bahwa satu dari lima orang percaya bahwa masa depan kita semua adalah bebas dari daging.
Sejalan dengan itu, dalam beberapa tahun terakhir kami telah menyaksikan peningkatan tajam dalam upaya menemukan alternatif yang layak. Vegan dengan pengganti daging dan vegetarian klasik telah menjadi fitur standar di rak supermarket selama beberapa tahun ini, sementara pengganti daging berbasis serangga, meskipun tersedia, menempati posisi yang relatif niche.
Baru-baru ini, perusahaan rintisan seperti Impossible Foods, Just dan Beyond Meat telah menghadirkan pengganti daging vegan baru, kategori produk nabati yang meniru profil sensorik daging. Jika kita melihat lebih jauh ke depan, perusahaan-perusahaan lainnya sekarang menggunakan kemajuan dalam bioteknologi untuk membuat prototipe dan menguji daging hasil budidaya, yang dibuat menggunakan sel yang diambil dari hewan hidup, yang bebas dari proses penyembelihan.
Apakah perkembangan ini hanya tren terbaru saja, atau dapatkah mereka menjadi disruptor industri utama serta menjadi solusi potensial untuk salah satu masalah kita yang paling mendesak?
Kami yakin inilah yang terakhir, dan keseimbangan akan mulai berkurang dari daging konvensional dalam beberapa tahun mendatang. Dengan industri peternakan skala besar yang sekarang dipandang sebagai kejahatan yang tidak perlu, dan keuntungan dari penggantian daging vegan baru dan daging yang dibudidayakan menjadi lebih dikenal, hanya masalah waktu saja sebelum mereka menguasai sebagian besar pasar.
Mari kita simak fakta-faktanya:
1. Alternatif baru dapat dibuat lebih efisien daripada daging konvensional.
Konversi biji-bijian (bila digunakan sebagai pakan ternak) dalam berat kering menjadi daging dengan jumlah kalori yang sama adalah sekitar 15% di semua jenis daging, karena sebagian besar energi ini hilang untuk menjaga suhu tubuh hewan tetap konstan, menciptakan produk sampingan dan membuang limbah. Jika produk sampingan dianggap sebagai daging yang dapat dimakan, tingkat konversi naik menjadi 23%. Sementara itu, vegan baru dan daging yang dibudidayakan membutuhkan lebih sedikit masukan bahan dan air untuk menghasilkan jumlah daging yang sama. Tingkat konversi mereka masing-masing adalah 75% dan 70%.
2. Solusi untuk meningkatkan efisiensi produksi daging tradisional sudah hampir habis.
Lahan subur menyusut karena pemanasan global dan urbanisasi, yang berarti menggunakan lebih banyak lahan untuk produksi biji-bijian harus mengorbankan habitat alami yang berharga seperti hutan hujan. Ketersediaan air bersih untuk menjaga kesuburan lahan menjadi perhatian lain. Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) dan Aquastat, pertanian global sudah menggunakan sekitar 70% dari air “biru” ini. Intensifikasi produksi pertanian juga mencapai batasnya, karena resistensi terhadap bahan kimia pada pertanian modern meningkat, dan praktek penanaman, rotasi, dan drainase yang intensif telah merusak keanekaragaman hayati tanah. Pada akhirnya, mengelola ternak menjadi lebih sulit karena masalah seputar penggunaan antibiotika, skandal kesehatan masyarakat, dan kesejahteraan hewan semakin meningkat dalam agenda populer.
3. Daging alternatif memiliki risiko lebih sedikit daripada daging konvensional.
Pengganti daging yang dibudidayakan dan yang baru memiliki masa simpan yang lebih lama daripada daging konvensional, dan membutuhkan lebih sedikit pendinginan selama pengangkutan karena tidak ada bakteri, seperti salmonella atau E.coli, yang menyebabkan daging-daging tersebut terdegradasi dan rusak. Terlebih lagi, risiko epidemi termasuk penyakit sapi gila dan flu burung tidak lagi menjadi perhatian karena proses produksi tunduk pada persyaratan manajemen kualitas yang kuat, yang akan mengarah pada tingkat keamanan yang lebih tinggi dalam rantai pasokan. Ada juga keuntungan dalam hal desain produk, termasuk kesempatan untuk menyesuaikan rasio otot, lemak dan nutrisi yang ada.
The following table shows how these and other factors will create the potential for novel vegan and cultured meat replacements to disrupt the industry.
Tabel berikut menunjukkan bagaimana faktor-faktor ini dan faktor lainnya akan menciptakan potensi pengganti daging berbasis vegan dan hasil budi budaya baru untuk mendisrupt industri.

Saat ini, sulit untuk mengetahui seberapa cepat disrupsi ini akan terjadi. Tapi kita sudah melihat para penjual grosiran, pengecer dan penjual barang eceran mencoba mencari pijakan dengan mengakuisisi start-up atau membeli hak distribusi untuk produk yang sudah ada. Salah satu contohnya adalah jaringan supermarket Tesco, yang mendistribusikan Beyond Burger dari Beyond Meat.
Penelitian dan percakapan kami dengan para ahli di bidangnya telah membawa kami pada kesimpulan berikut:
- Kami yakin sekitar sepertiga dari pasokan daging global akan disediakan oleh teknologi baru ini dalam 10 tahun mendatang, dan dalam 20 tahun, hanya 40% konsumsi daging global akan berasal dari sumber daging konvensional.
- Meskipun penggantian daging baru merupakan langkah awal dan akan terus relevan selama masa transisi, daging budidaya akan mendominasi dalam jangka panjang. Ini akan menjadi alternatif yang semakin dapat diterima oleh basis konsumen yang lebih luas, misalnya mereka yang suka makan daging, tetapi lebih menyukai produk yang tidak disembelih dan hemat sumber daya.
- Daging yang dibudidayakan akan melampaui penggantian daging baru antara tahun 2025 dan 2040 seiring dengan perkembangan teknologi dan preferensi konsumen. Faktanya, efek disrupsi dari metode bioteknologi yang baru akan melewati daging ke arah susu, putih telur, gelatin dan produk-produk berbasis ikan.

Hampir setengah dari panen dunia (46%) saat ini dibutuhkan untuk memberi makan populasi ternak kita, yang sebagian besar menghasilkan daging untuk konsumsi manusia. Dengan tekanan untuk memberi makan yang berfokus pada pertumbuhan populasi dunia terus meningkat, pengganti daging baru dan daging yang dibudidayakan tidak hanya memberikan alternatif yang layak untuk daging konvensional, mereka juga dapat membantu mengarahkan sumber daya pertanian kita ke tempat yang paling dibutuhkan, dan menopang miliaran orang dalam prosesnya.
Penulis: Carsten Gerhardt, Partner, Chemicals practice, A.T. Kearney (untuk World Economic Forum)